
Nota Diplomasi & Pledoi Resmi - Tn. Ozario, Presiden Republik Eclesiar Indonesia
Hari ini, atas nama pemerintah dan seluruh rakyat Republik Eclesiar Indonesia, saya berbicara di sini bukan untuk menciptakan permusuhan, melainkan untuk menyuarakan sebuah hak paling mendasar di dunia simulasi ini: hak untuk ada dan tumbuh.
Eclesiar bukan sekadar angka dan visual di layar monitor atau bar pertempuran di papan skor. Eclesiar adalah cermin dari dinamika kehidupan nyata; sebuah dunia virtual tempat kita belajar mengelola sumber daya, merancang efisiensi industri, bertukar komoditas, mengatur keuangan, serta menggerakkan roda ekonomi, dan lain-lain. Bagi banyak warga kami, terutama mereka yang baru melangkah di dunia ini, Eclesiar memberikan kesempatan unik untuk merasakan peran dan tanggung jawab yang mungkin belum pernah mereka dapatkan di dunia nyata.
Namun, bagaimana mungkin semua itu dapat diwujudkan jika sebuah bangsa dicabut dari tanahnya sendiri? Bagaimana sebuah masyarakat bisa belajar, bekerja, mengelola industri, wilayah, infrastruktur, pajak, mengelola keuangan nasional, dan lain sebagainya secara mandiri jika tidak ada satu pun wilayah yang sepenuhnya berada di bawah kendali mereka?
Di dunia virtual ini, tidak ada yang perlu kita pertahankan atau perjuangkan sampai mati-matian hingga merusak esensi dari permainan itu sendiri. Kita semua hadir di sini untuk menikmati setiap mekanisme yang telah dirancang, bukan untuk saling meniadakan. Ketika sebuah negara kehilangan seluruh wilayahnya, yang lenyap bukan hanya kedaulatan, melainkan juga kesempatan bagi para warganya untuk mengeksplorasi potensi permainan ini secara utuh.
Oleh karena itu, kami menyerukan sebuah Konsensus Internasional:
"Biarkan setiap bangsa memiliki kedaulatan atas tanah kelahirannya, minimal satu wilayah regional, yaitu ibu kota. Ibu kota sebuah negara adalah jantung keberadaan warganya, baik dikelola oleh ribuan jiwa maupun hanya segelintir pejuang. Jangan pernah merampas wilayah terakhir dan ibu kota dari suatu bangsa, biarkan mereka tumbuh dan bernapas dengan caranya sendiri."
Apa yang terjadi di Jakarta hari ini, antara Serbia dan Indonesia dilakukan bukan atas dasar kebencian, melainkan untuk mengamankan ruang belajar dan berkembang bagi seluruh rakyat. Kami mengajak seluruh pemimpin dunia untuk kembali melihat esensi dari permainan ini: persaingan yang sehat, penghormatan atas keberadaan sesama, dan ruang bagi semua bangsa untuk berdiri tegak di bawah benderanya masing-masing.
Mari kita bangun dunia Eclesiar yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga adil dan beradab.
Tertanda: Presiden Republik Eclesiar Indonesia, Mr. Ozario
